Bahan Pondasi Rumah di Daerah Rawan Longsor

Bahan pondasi rumah memegang peran krusial untuk menjaga bangunan tetap aman, terutama di daerah rawan longsor. Setiap tahun, pergerakan tanah dapat merusak rumah, mengancam keselamatan penghuninya, dan memaksa warga hidup dalam kecemasan. Sayangnya, banyak pemilik rumah—terutama rumah sederhana—masih membangun bangunan tanpa memperhatikan standar konstruksi tahan longsor.

Akibatnya, risiko keruntuhan meningkat drastis saat tanah mulai bergerak. Dengan menggunakan bahan pondasi sesuai standar, pemilik rumah dapat meningkatkan kekuatan bangunan tanpa harus melakukan relokasi. Selain itu, pemilik rumah dapat memperbaiki pondasi lebih hemat dan melakukannya secara bertahap.

Mengapa Bahan Pondasi Rumah Penting di Daerah Longsor

Penelitian Sari dkk (2023) dalam jurnal G-Tech berjudul “Upaya Mitigasi Meningkatkan Kapasitas Bangunan Terhadap Ancaman Bencana Tanah Longsor di Kalirejo, Kokap, Kulonprogo” menunjukkan lebih dari 41,6% bangunan tidak memenuhi standar evaluasi rumah sederhana. Masalah paling umum terjadi pada pondasi, sloof, kolom, dan dinding. Pemilik rumah membangun banyak bangunan sebelum menerapkan standar minimum, sehingga pondasi menjadi tidak seragam dan sering terlalu dangkal.

Kontraktor sering menemukan beberapa persoalan pondasi, antara lain:

  • Kedalaman pondasi kurang dari 60 cm

  • Dimensi pondasi tidak seragam

  • Sambungan tulangan tidak memenuhi standar

  • Bahan bangunan tidak sesuai spesifikasi

  • Tidak ada perkuatan tambahan meski tanah berada pada zona rawan gerakan

Oleh karena itu, memperkuat pondasi menjadi langkah mitigasi paling penting.

Bahan Pondasi Rumah yang Direkomendasikan untuk Daerah Rawan Longsor

Berdasarkan FGD dan rekomendasi teknis dalam jurnal G-Tech 2023, material pondasi yang ideal di daerah rawan longsor meliputi:

1. Beton Bertulang Mutu Baik

Gunakan beton dengan mutu minimal K-225 (atau sesuai SNI). Beton menahan gaya tekan, sementara tulangan baja menahan gaya tarik. Kombinasi ini membuat pondasi lebih kokoh dan mampu menahan pergeseran kecil pada tanah.

2. Tulangan Baja Berstandar SNI

Beberapa rumah di Kalirejo menggunakan begel < ø8–150, yang tidak sesuai standar. Oleh karena itu, rekomendasi perbaikan meliputi:

  • Tulangan utama minimal 4D10

  • Begel minimal D8–150 mm

  • Panjang penyaluran tulangan minimal 40D

Tulangan yang sesuai standar meningkatkan ketahanan terhadap retak dan guncangan akibat pergerakan tanah.

3. Batu Belah atau Batu Kali Berkualitas

Tukang menggunakan batu pada pondasi batu kali atau sebagai pasangan pendukung. Pastikan:

  • Batu tidak mudah pecah

  • Ukuran batu proporsional

  • Susunan batu saling mengunci

  • Spesi (adukan) sesuai standar, tidak terlalu encer

Saat memperbaiki pondasi lama, tukang membongkar pondasi secara bertahap per 1,5 meter untuk mencegah keruntuhan struktur.

4. Semen Grout Non-Shrink

Gunakan semen grout non-shrink untuk menutup keropos atau rongga pondasi. Bahan ini mengisi celah tanpa menyusut, sehingga memperkuat integritas struktur pondasi.

Standar Kedalaman dan Dimensi Pondasi Rumah

Penelitian menunjukkan pondasi <60 cm berisiko penurunan dan pergeseran. Standar yang direkomendasikan adalah:

  • Kedalaman minimal: 60 cm (lebih dalam lebih baik jika tanah kurang stabil)

  • Dimensi pondasi tapak: sekitar 40 × 40 cm

  • Lebar pondasi batu kali menyesuaikan beban bangunan

Solusi perbaikan meliputi:

  • Membongkar pondasi lama

  • Menggali ulang setiap titik kolom

  • Membuat pondasi tapak baru sesuai standar

Dengan cara ini, pondasi mampu menahan gaya dorong lateral akibat longsor kecil.

Teknik Perkuatan Pondasi Rumah yang Disarankan

Penelitian jurnal merekomendasikan beberapa metode mitigasi:

1. Angkur Tulangan (40D)

Jika pondasi tidak memiliki ikatan kuat dengan kolom, kontraktor melakukan pengeboran sedalam 40D, menanam tulangan baru, lalu melakukan grouting. Teknik ini memperkuat sambungan pondasi–kolom, membuat bangunan lebih tahan gaya tarik dan geser.

2. Pembongkaran Bertahap Pondasi Lama

Kontraktor membongkar pondasi batu kali yang tidak sesuai standar per segmen 1,5 meter dan membuat pondasi baru sesuai standar untuk mencegah keruntuhan total selama proses perbaikan.

3. Pondasi Tapak Baru

Jika pondasi lama tidak layak diperkuat, digunakan pondasi tapak baru dengan:

  • Ukuran 40 × 40 cm

  • Kedalaman minimal 60 cm

  • Tulangan utama 4D10, begel D8–150

Teknik ini paling efektif meningkatkan kapasitas bangunan.

Proporsi Tindakan Mitigasi pada Bangunan 

Dari 79 bangunan yang dianalisis:

  • 30,38% masih aman, tidak perlu perbaikan

  • 20,25% perlu diperkuat pada bagian lemah

  • 45,57% perlu diperbaiki karena kerusakan serius

  • 0% perlu direlokasi

Kesimpulannya, pemilik bangunan cukup memperkuat atau memperbaiki sebagian besar bangunan agar memenuhi standar keamanan.

Prinsip Utama Membangun Pondasi Aman di Daerah Longsor

  • Gunakan material berstandar: beton bermutu, tulangan sesuai SNI, batu kuat

  • Pastikan kedalaman pondasi cukup: minimal 60 cm atau disesuaikan kondisi tanah

  • Perkuat sambungan pondasi–kolom menggunakan angkur dan teknik penyambungan yang benar

  • Perbaiki bagian pondasi keropos menggunakan grout non-shrink

  • Lakukan pembongkaran bertahap untuk mencegah kegagalan struktur

  • Evaluasi seluruh struktur rumah, termasuk sloof, kolom, dinding, dan ring balok

Dengan penerapan pondasi sesuai standar, masyarakat memiliki rumah lebih aman, sementara pemerintah desa dapat merancang anggaran mitigasi lebih terarah dan efektif.

Selain penerapan pondasi rumah yang sesuai standar, pemilik rumah harus memilih bahan pondasi berkualitas. Distributor terpercaya menjadi kunci agar pondasi tahan terhadap longsor dan berumur panjang.

Untuk artikel lainnya seputar bahan bangunan dapat diakses pada laman ini.